Mengapa judul itu saya angkat, jawabnya saya baru saja menyaksikan dalam kehidupan umat manusia di dalam dunia yang serba modern ini. Saya melihat suatu kejadian didalam kehidupan keluarga yang saat ini berdekatan rumah dengan saya sekeluarga. Kalau saya sebutkan keributan dalam rumah tangga pasti orang berkata bahwa rumah tangga itu tidak harmonis, apalagi kalau kita kaitkan dengan istilah Sakinah dan Mawadah warahma, wah nama boleh kita pakai tapi perbuatan kita belum tentu sama dengan yang dimaksudkan Istilah tersebut. Ada satu keluarga kalau kita pijak kakinya dia menjawab sori kaki gua terhinjak tapi ada orang atau keluarga bila dipijak kakinya, mereka akan marah jadinya, bisa-bisa mereka akan memukul kita, itulah manusia. Dalam aturan Agama bila keluarga mau bubar ada yang melalui perkataan istilah dari kaum laki-laki mengatakan aku cerai kamu atau kelompok istri mengadu kepemerintah untuk penguatan atau pengabulan cerai kehendak istri. Tepat jam 9 pagi waktu Indonesia bagian barat terjadi tragedi pada awal bulan pebruari 2009, dimana seorang suami menikam isterinya sampai mati katanya. Sekarang siapa salah saya pribadi mengatakan tak ada yang salah tapi tak ada yang benar, kebenaran ada pada Allah. Kata silaki ditanya mengapa kamu bunuh, jawabnya isteriku silingkuh kamudian ditanya sebelum mati mengapa kamu diajak berulang kali dengan lembut untuk kembali lagi membina keluarga yang rusak ini, yang selalu menolak alasan sudah tidak mau kumpul lagi, padahal sisuami belum mengatakan cerai atau surat cerai. Bahasanya masih punya hak. kata suami, aku melihat isteriku berjalan dengan orang lain (seperti pacaran) dan sisuami melihat siisteri sering nelpon semenjak lebih kurang 3 bulan tidak kumpul. Nah itu kataku pisau dan Sarung, eh sisarung udah jalan tidak mau kumpul lagi dengan pisau, yah akhirnya pisau ganas karena tidak pakai baju atau sarung. Itudia terjadi kasus itu silakan anda yang membaca tulisan ini menjadi renungan yang dalam makna yang saya sampaikan. Mau diskusi kunjungi web saya : www.irtastudio.com atau email irtastudio08@yahoo.co.id saya menunggu kita berbagi pengalaman untuk kita semua. |
Kamis, 05 Februari 2009
Pisau dan Sarungnya
Rabu, 07 Januari 2009
MENGAPA
Menagapa setiap manusia di karir kehidupan di dunia yang fana ini bila berada pada lapisan bawah selalu melihat keatas dan di atas juga lihat keatas lagi sehingga manusia jarang melihat kebawah kecuali tersandung atau mendapat hambatan atau rintangan. Waktu di bawah selalu berkata kalau aku diatas pasti aku akan lihat kebawah, itulah kata-kata setiap belum berada di atas. Kalau sudah diatas manusia tak mau lihat ke bawah alasannya ia takut jatuh atau gamang dan banyak lagi alasan yang akan di cari untuk menjawab kritikan waktu berada di atas. Ini suatu renungan untuk kita bersama : yaitu berada di bawah ataupun di atas supaya nikmatnya sama yaitu selalu ingat Allah dan selalu ingat mati tidak bawa apa-apa dan hindari penyesalan yang telah terjadi dan ingat memberi kebahagian bagi orang lain ataupun orang yang berada fdi bawah jabatannya atau pegawainya ciptakanlah selalu kesenangannya atau kebahagiaannya karena dengan demikian itu berarti menyenangkan diri kita sendiri dan membuat hati kita lapang alias kalbu kita lapang. Itulah pengalaman sejenak waktu saya mempunyai bawahan. Mudah-mudahan yang membaca ini dapatlah kesadaran yang belum terlambat. Akhirnya saya mohon ampun pada Sang Allah dan minta maaf bagi manusia di dunia ini. Amin |
Langganan:
Komentar (Atom)

